Tampilkan postingan dengan label jatuh cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jatuh cinta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 November 2011

Flashback

Tak sengaja, kemarin aku membaca ulang sms-sms darimu, yang sangaaaat banyak. Aku tak mengira kalau banyak sekali hal-hal yang sudah kita bagi. Dari hal-hal yang penting sampai yang tidak penting. Dari yang menyenangkan sampai yang menyedihkan.

Hmmm... itu semua sudah terjadi selama 4 bulan, dari bulan Agustus sampai bulan ini. Bahkan saat itu, puasa selama 1 bulan pun tidak terasa, tiba-tiba kita sudah bertukar ucapan lebaran saja, dan kita bertukar oleh-oleh dari kampung halaman kita masing-masing. Kalau boleh tahu, apa rasa keripik apel memang seperti itu ya? Soalnya di lidahku terasa seperti rumput laut, dan kau tahu sendiri lah kalau aku tidak suka rumput laut. Tapi itu tidak masalah, karena aku sangat menghargai usahamu yang lebih dulu mengajakku untuk bertukar oleh-oleh. Karena sebenarnya aku sangat shock saat itu dan kurasa itu benar-benar gila. Aku tidak pernah menyangka nya sebelumnya. Apalagi mengingat kalau saat itu kita tidak terlalu dekat, dan menurutku kamu sangat cuek.

Kembali ke masa sekarang. Tidak banyak berubah, masih seperti dulu. Kita tetap seperti orang bodoh yang diam-diaman, menunggu siapa yang lebih dulu memulai. Dan kalau boleh jujur, aku sangat menikmatinya. Menikmati setiap detik yang berlalu dengan perasaan deg-degan, semangat yang mengalir, dan adrenalin yang selalu ingin meledak setiap kali mata kita saling bertubrukan tanpa sengaja.

Setiap hari, aku selalu berharap bahwa kamu akan sadar tanpa aku beri tahu atau aku tunjukan perasaan itu. Aku bukan perempuan yang berpengalaman dalam masalah ini, jadi tolong jangan paksa aku untuk melakukan hal-hal yang tidak aku tahu. Maafkan aku kalau aku sangat kaku atau jaim dihadapanmu. Semua itu terjadi karena aku malu, aku takut kalau aku akan bersikap konyol dihadapanmu.

Namun sekarang aku sudah bisa menerima semua yang terjadi dengan ikhlas. Kenyataan bahwa kamu memang tidak tahu menahu tentang perasaanku yang sepertinya semakin dalam. Kenyataan bahwa sepertinya semakin jauh saja aku denganmu.

Persetan dengan akhir yang bahagia. Persetan dengan kata 'aku cinta kamu' yang selalu aku tunggu-tunggu untuk keluar dari bibirmu. Persetan dengan harapan bahwa suatu saat nanti kamu akan memberiku boneka, bunga, atau hal-hal manis lainnya.

Semua ini bukan tentang hasil di akhir cerita nantinya. Namun ini lebih tentang setiap momen yang sudah kita lalui bersama dalam proses menuju akhir cerita itu. Dan menurutku, keadaan kita saat ini pun sudah cukup. Dengan melihatmu saja sudah terasa melegakkan, jadi untuk apa berharap sesuatu yang lebih?


Karena terkadang, cinta itu tidak harus memiliki bukan?



Di kamarku - 13.34. Hari ini aku meliburkan diri dan sebal sekali karena aku bangun terlalu pagi. Yang artinya sama saha seperti hari-hari lainnya.

Minggu, 20 November 2011

The Words Tell Everything

Hari ini sudah membaca beberapa kalimat yang membuat saya berpikir cukup lama. Yang pertama:

"Titipkanlah cinta kepada orang yang tepat bukan orang yang sempat."

Kalimat di atas membuat saya teringat akan postingan saya dulu yang pernah mengulas tentang kalimat itu dan yang benar-benar membuat saya kepikiran terus-menerus karena yang menuliskan kalimat itu adalah orang yang akhir-akhir ini membuat saya sering posting blog tentang cinta. Ada sedikit rasa sedih mengingat sebenarnya siapa sih orang yang menurut Dia tepat untuk dititipi cinta itu. Dan dari kalimat itu memberi tahuku bahwa ada kemungkinan Dia sedang jatuh cinta. Tapi dengan siapa? Kepada siapa Dia mau menitipkan cinta nya?

Yang kedua:

"Pe-jatuh cinta nggak akan bisa berhenti untuk nyari kabar. Ngecek bbm bolak balik, refresh timeline sampai habis.. Jatuh cinta itu, gelisah."

Kenapa kalimat diatas membuat berpikir karena seakan menyindirku, seakan tahu apa yang sedang kualami akhir-akhir ini. Kalimat itu memang tepat sasaran, dan aku tidak bisa mengelak. Karena hobiku akhir-akhir ini adalah rajin buka twitter, me-refresh timeline terus-terusan untuk mencari kabarnya. Atau yang lebih tidak mungkin lagi, aku selalu harap-harap cemas ketika mendapat sebuah pesan di handphone ku, karena aku selalu berharap bahwa Dia yang mengirimkan pesan itu. Sepertinya aku baru mendapat arti cinta yang terbaru, yaitu gelisah.

Dan yang terakhir:

"U're the reason that I'm smiling all the time."

Selain gelisah, tersenyum juga salah satu efek dari jatuh cinta kurasa. Karena setiap detik, yang ada didalam pikiranku hanya Dia saja, dan memikirkan setiap hal yang menyangkut dengannya, akan membuatku tersenyum secara spontan dan malu sendiri. Jadi...kesimpulan yang dapat kuambil bahwa memikirkan nya adalah salah satu cara untuk tetap awet muda dan bahagia. Apa aku benar?



Di Kamar - 21.51. Maafkan aku kalau akhir-akhir ini yang aku tulis semua nya tentang cinta. Karena sepertinya kadar cinta dalam diriku sudah terlalu banyak. Ups.

Sabtu, 19 November 2011

Broken

Aku tak mengerti apa yang kurasa
Rindu yang tak pernah begitu hebatnya
Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu
Meski kau takkan pernah tahu

Baru kusadari
Cintaku bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk seluruh hatiku


***


Jadi kronologis kenapa gue tiba-tiba nge-post secuplik lirik di atas itu adalah waktu gue bimbel dan pas jam istirahat, speaker nya menyanyikan lagu Pupus dari Dewa 19. Dan ya....liriknya sangat menyindir dan menusuk. Saat itu juga gue merasa sangat....menyedihkan.




Di Kamarku - 00.26.

Minggu, 13 November 2011

Love Isn't Just 'Love'



Mencintai....menurutmu mencintai itu apa? Memberikan seluruh jiwamu kepada seseorang yang kamu cintai? Merelakan dirimu dimiliki seutuhnya oleh seseorang yang kamu cintai? atau...membisikannya "Aku cinta kamu"?

Mencintai bukanlah sekedar mencintai saja. Mencintai juga bukan sekedar kata cinta yang dilontarkan dari bibirmu. Mencintai lebih kepada bagaimana kamu memperlakukan orang yang kamu cintai dengan sebaik-baiknya, dengan kasih sayang, dengan cinta. Mencintai berarti rela membagi ruang hatimu dengannya, bahkan seluruhnya. Karena mencintai itu belajar untuk berbagi, untuk adil.

Mencintai juga bukan sekedar perasaan yang tiba-tiba tumbuh saja tanpa kita ketahui. Mencintai berarti berani menerima kekurangan nya, luar dan dalam. Karena sebelum kamu mengatakan 'Cinta', kamu harus memastikan kalau kamu tahu dirinya seutuhnya. Karena mecintai adalah saling mengerti.

Mencintai tidak egois. Mencintai itu membuat orang yang kamu cinta bahagia. Bukannya menganggap nya sebagai tahanan. Yang selalu dilarang untuk ini untuk itu. Karena mencintai tidak membatasi seseorang untuk melakukan hal apa pun.

Namun mencintai tidak selamanya harus berbunga-bunga atau deg-degan. Terkadang mencintai itu menyakitkan. Dimana kamu tidak dapat melepas orang yang kamu cintai itu dari hatimu. Ketika perasaan itu sudah terlanjur tertanam cukup dalam. Karena mencintai itu sebuah pengorbanan, yang harus dilalui dengan hati yang lapang.




Mencintai bukan sekedar kata 'Cinta'. Melainkan bagaimana kamu membuatnya selalu tersenyum walaupun kamu tidak pernah membisikannya "Aku cinta kamu" di telinga nya. Karena mencintai itu ikhlas.




Di Kamarku - 21.07.

Rabu, 02 November 2011

Jatuh Cinta

Jatuh cinta. Menyimpan banyak arti yang tersembunyi. Tergantung darimana kita menilai dan memahaminya. Aku saja tidak tahu seperti apa itu jatuh cinta. Aku tidak pernah melihatnya, bahkan menyentuhnya. Apa jatuh cinta itu rasa nya seperti mendapat sesuatu yang kita damba-dambakan? Apa jatuh cinta itu sebuah permainan yang kalau bosan dengan mudahnya dapat ditinggalkan? Atau....apa jatuh cinta itu rasanya seperti kopi? Rasanya manis sekaligus pahit?

Aku memang tidak pernah melihatnya dan menyentuhnya, namun aku pernah merasakannya. Sedang. Namun aku tidak tahu jatuh cinta apa yang sedang aku alami. Tapi yang pasti, aku akan bertingkah sangat bodoh atau jaim bila berada di dekatnya. Aku akan tergagap ketika berbicara dengannya. Aku akan melihat kesana-kemari ketika Dia sedang menatapku. Aku akan mencari-cari sosoknya diantara kerumunan orang-orang. Bahkan aku selalu melihatnya diam-diam selama jam pelajaran. Jadi, jatuh cinta apa ini?

Mungkin sebenarnya jatuh cinta itu adalah setiap hal selalu bersangkutan dengan Dia. Tak peduli hal apa yang sedang kita lakukan. Tak peduli seberapa penting hal yang sedang kita kerjakan. Pasti, namanya akan selalu ada di dalam pikiran. Seakan dengan memikirkannya kita dapat merasakannya berada di dekat kita. Dan secara tak langsung telah menyemangati setiap hal yang sedang kita lakukan.

Tapi...apa jatuh cinta harus saling memiliki? Dan kenapa jatuh cinta harus saling memiliki? Pertanyaan itu selalu muncul akhir-akhir ini tanpa kuminta. Aku bingung menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Aku tidak tahu. Benar-benar tidak tahu. Namun satu hal yang kutahu, bahwa jatuh cinta itu tidak bisa dipaksa dan memaksa. Karena jatuh cinta adalah sebuah persetujuan dari dua pribadi yang berbeda. Ibarat sepatu yang selalu berdampingan, kanan dan kiri. Yang tidak akan berguna bila salah satunya hilang.

Jatuh cinta adalah harapan. Harapan yang datang dari setiap orang yang merasakannya. Terkadang harapan itu tidak selalu terjawab sesuai keinginan. Pada akhirnya, rasa kecewalah yang menggantikannya. Namun rasa kecewa itu tidak mungkin akan langsung membunuh harapan itu. Karena harapan-harapan tersebut terbentuk dari perasaan yang kuat. Dan aku mengerti bagaimana rasanya, karena ya....aku sedang mengalaminya juga.

Seperti namanya, jatuh cinta, kita memang terjatuh. Namun tergantung kita jatuh ke lubang yang mana. Ketika harapan itu terjawab, kita akan terjatuh ke lubang kebahagiaan. Sebaliknya, jika harapan itu digantungkan terlalu tinggi dan tidak terjawab maka kita akan jatuh ke lubang kesedihan. Maka berhati-hatilah. Jangan bermain-main dengan jatuh cinta.


Kurasa aku tidak salah ketika aku bilang jatuh cinta mempunyai banyak arti. Dan tentunya sangat membingungkan dan merepotkan. Jadi kusarankan, ketika kamu sedang jatuh cinta, berhati-hatilah jangan sampai tersesat.



Di Kamar - 21.48.

Senin, 26 September 2011

Menikmati Cinta





Aku memandang ke kejauhan
Terlihat matahari yang berangsur-angsur menghilang
Meninggalkan langit keemasan yang pecah di garis horizon
Hatiku begitu tenang
Mendengar suara ombak yang saling berkejaran
Serta suara burung-burung yang sedang bermain-main disana
Terasa pasir putih yang lembut di kakiku yang telanjang
Dan angin yang memainkan rambutku
Semuanya begitu indah

Saat itu
Dress polos berwarna putih menggantung di tubuhku
Wajahku polos tanpa make up
Rambutku tergerai seadanya

Diam-diam
Aku menyusupkan tanganku ke dalam tanganmu
Tak dapat digambarkan rasanya
Tanganmu hangat sekali
Kamu menatapku dan merapikan anak-anak rambutk yang berjatuhan di dahiku
Lalu kamu menarikku ke dalam pelukanmu
Aku dapat mendengar detak jantungmu
Serta merasakan hangatnya tubuhmu
Rasanya, semua bebanku terangkat
Dan waktu melambat


Ya Tuhan, jangan pernah pisahkan kami
Aku cinta pria ini


Kamu merangkulku
Lalu mengajakku berjalan-jalan
Kami hanya diam
Hanya suara ombak saja yang terdengar
Seakan semua hal tak perlu diucapkan
Karena kami sama-sama mengerti

Kami menikmati indahnya matahari
Yang dengan cepat bersembunyi di kejauhan
Terlihat laut berwarna orange
Dan sinarnya mengenai kami
Kakiku terasa dingin
Ombaknya mengenai kaki kami

Tak terasa ternyata langit sudah gelap
Dan kami masih disana
Enggan untuk berpisah dengan pantai
Yang dengan baik hati
Bersedia menjadi saksi bisu





Rumah - 15.58. Sambil mendengarkan Menari-nya Maliq and D'essentials. Kurasa cocok untuk menjadi soundtrack ceritaku di atas. Selamat menikmati :)

Senin, 19 September 2011

Dia

Bel pulang sekolah seakan mengingatkan murid-murid yang berada di dalam kelas bahwa sekolah telah usai. Saat itu, dari sudut mataku, aku melihatmnya keluar kelas lebih dulu dari yang lainnya dan terlihat terburu-buru. Mungkin dia kebelet pipis, atau mungkin sudah ditunggu oleh salah satu temannya yang menagih janji makan siang bersama. Dan masih banyak kemungkinan yang mondar-mandir dalam pikiranku. Pada akhirnya mereka semua terlupakan karena aku teringat untuk mengambil barangku yang kutaruh di loker.

Aku melewati pintu kelas dan terlihatlah dia sedang berada diluar kelas, sendirian dan sedang tidak melakukan apa-apa. Yang artinya, terlambat bagiku untuk mengalihkan pandangan mataku darinya, karena dia terlanjur melihatku juga. Hanya beberapa detik sepertinya kami saling menatap, yang terasa sangat lambat. Tak ada alasan lain bagiku untuk tidak jalan terus menuju lokerku yang hanya berjarak 10 meter darinya. Rasa gugup dan takut bercampur menjadi satu di dalam dadaku saat aku dengan susah payah berusaha untuk bersikap sewajarnya ketika melewatinya.

Sesampainya di loker, aku menyelesaikan urusanku dan terperangkap dalam obrolan singkat dengan temanku yang tak sengaja lewat di dekatku. Hanya perasaanku saja atau bukan, aku rasa dia sedang menatapku dari tempatnya berdiri tadi. Dengan sengaja aku memutar tubuhku dengan cepat kearah nya dan benar saja, dia sedang menatapku.

Dan lagi-lagi, aku harus melewatinya lagi untuk menuju ke kelas. Aku sebal sekali karena rasa gugup itu tak kunjung hilang, namun makin bertambah. Alhasil, aku hanya menatap ke arah lain selagi melewatinya. Rasanya, letak kelas ku itu begitu jauh dan lama sekali sampai nya. Akhirnya aku sampai kelas lagi dengan rasa gugup yang masih sangat terasa.

Aku menuju mejaku dan dengan cekatan memasukkan semua barang-barangku ke dalam tas. Setelah semuanya selesai, aku membalikkan tubuhku untuk bergegas pulang, dan tiba-tiba saja dia sudah berada dihadapanku. Belum sempat mengatur napas dan emosiku, dia bertanya kepadaku dengan mudahnya tentang suatu hal yang seharusnya dengan mudah aku jawab pada keadaan normal, namun keadaanku sangat tidak normal untuk menjawab pertanyaan apa pun. Seakan-akan semuanya buram, sunyi, dan hanya ada kami saja disana. Seakan-akan aku membisu seketika dan dengan tergagap menjawab perntanyaan nya itu. Aku tak terlalu ingat apa saja yang aku ucapkan kepada nya, bisa mengatakan 1 kata saja sudah sangat beruntung bagiku. Dan yang terpenting aku tidak terlihat seperti patung dihadapannya. Itu saja yang aku minta kepada Tuhan.

Sepertinya Tuhan tahu kalau aku sangat butuh bantuannya, karena pada waktu yang tepat temanku lewat di dekatku. Rasa gugupku berkurang sedikit. Tanpa pikir panjang, aku menariknya mendekat dan dengan cepat mengulangi pertanyaan nya. Temanku dengan lancar menjawab pertanyaan nya dan langsung mendapat anggukan yang menunjukan bahwa pemilik pertanyaan itu sudah puas dengan jawabannya. Dengan suara serak dan terbata-bata aku berhasil berpamitan dengannya dan dengan perasaan gugup aku berjalan keluar dari kelas, meninggalkannya.

Sepanjang jalan menuruni tangga sekolah, sepertinya dadaku ingin meledak saking kerasnya berdegup. Untung saja temanku yang baik hati itu tidak mendengar sedikit pun bunyinya. Sepertinya, bertruk-truk coklat juga tak akan cukup untuk mengungkapkan rasa terima kasihku. (Mungkin ini lebay, jadi lupakan saja)

Aku tak habis pikir, kenapa semua yang sudah terjadi beberapa saat lalu bisa terjadi kepadaku. Aku juga sudah mengira bahwa efek dari semua itu akan bertahan lama. Buktinya, sepanjang hari itu hanya kejadian itu saja yang berhasil menarik perhatianku. Seakan-akan memang kejadian itu ditakdirkan untuk dipikirkan berkali-kali. Bahkan waktu tidurku pun terganggu.

***

Berdiri beberapa saat dihadapanmu seakan memberitahuku bahwa kamu sangat tinggi, sampai-sampi aku harus mendongakan kepalaku agar bisa menatap matamu. Terlihat sepatu hitam berlist merah sedang kamu pakai saat itu dan untuk kesekian kalinya aku berpendapat bahwa kamu suka warna merah.



Mungkin aku sok tahu, tapi aku juga hobby memperhatikanmu.




Di kamarku - 22.31. Aku sudah berbaring di tempat tidurku yang sangat nyaman ini dan kurasa aku harus menyelesaikan tulisanku ini skrg juga. Dan baru saja selesai, jadi sekarang saatnya aku untuk tidur. Selamat malam.

Kita Bodoh




Aku selalu berpikir kalau sebenarnya kita berdua sangat bodoh. Dan sangat pemalu. Aku dan kamu bersikap bagaikan orang yang tidak saling mengenal, padahal kita sudah berbagi cerita panjang lebar. Kita juga sudah bertukar oleh-oleh lebaran. Kamu memberiku keripik apel dan aku memberimu bakpia rasa coklat. Dan semua itu adalah rahasia kecil antara kita berdua. Kecuali, 5 orang sahabatku yang sudah aku beri tahu. Pertanyaannya, apa ini masih sebuah rahasia kecil?

Kita berdua berada di tempat yang sama, namun hari-hari kita hanya diisi oleh kesunyian dan curi-curi pandang yang terkadang aku lakukan. Mungkin aku terlalu takut untuk menatapmu langsung dan pada akhirnya aku akan bertingkah bodoh di depanmu atau lebih parah nya, mungkin aku akan terlihat sombong karena tidak sedikit pun mau melihatmu. Aku juga tak kalah bingung akan sikapmu yang hanya diam saja seperti itu. Sekarang memang abad 21, namun perempuan tetaplah perempuan, memiliki gengsi setinggi langit untuk memulai duluan. Begitu pula aku. Tidak-kah kau tahu bahwa perempuan lebih suka disapa lebih dulu?

Kalau tidak salah menghitung, sepertinya sudah lewat sebulan sejak pertama kali kita bertukar nomor hp. Kalau kamu mau tahu, saat itu aku senang sekali. Aku masih sangat ingat isi sms pertama darimu. Walau isi nya tidaklah penting, tapi yang terpenting adalah kamu, si pengirim sms itu. Maaf kalau aku sedikit gombal. Dan ya, aku suka menanyaimu tentang PR yang sebenarnya sudah kuketahui sebelumnya. Aku juga suka mencari-cari topik pembicaraan yang menarik agar kamu tidak cepat bosan berbagi cerita denganku. Saat itu sepertinya semahal apa pun tarif sms tidak akan menjadi masalah.

Kamu juga tidak pernah absen dari dalam pikiranku, walaupun aku sedang melakukan hal lain. Saat tidur pun, kamu sering berkunjung ke alam mimpiku dan disana kita bagaikan pasangan sungguhan. Dan aku sangat sebal saat aku terbangun, semuanya hilang. Aku selalu berharap kepada Tuhan, bahwa semua itu nyata dan situasinya berbeda dari kenyataan yang sepertinya tidak memperbolehkan kita bersama.

Namun sepertinya Tuhan tidak mendengar doa ku. Buktinya, sampai sekarang kita tetap diam-diaman dan aku masih suka mencari-cari celah untuk melihatmu. Apa sebenarnya dari awal kamu memang tidak menganggap semua ini spesial? Atau aku nya saja yang terlalu berharap?


Tapi, kenapa kamu membalas sms-sms ku dengan kalimat yang panjang-panjang? Kenapa kamu berbagi cerita denganku? Kenapa kamu mengajakku bertukar oleh-oleh lebaran?



Kenapa kamu memberiku harapan....?




Di kamarku - 20.50

Minggu, 18 September 2011

....Tuhan, aku ingin jatuh cinta lagi....




Aku rasa, perkataan perempuan sore benar. Setelah merasakan patah hati, pasti yang diinginkan setelahnya adalah merasakan jatuh cinta lagi. Sepertinya, itulah yang sedang aku rasakan. Rasanya seperti menginginkan sesuatu yang baru untuk menghapus bekas-bekas coretan yang pernah kamu tulis di dalam hatiku. Seperti sepatu lusuh yang sol nya sudah lepas, dan buru-buru ingin ditambal supaya bisa dipakai lagi.Karena, aku akan sedih kalau sepatu lusuh itu hanya teronggok rusak disana.

Aku tidak tahu apakah waktu itu yang dinamakan cinta atau bukan. Aku tidak mau tahu. Karena yang aku rasakan adalah sebuah rasa yang mengalir dengan tenang dan aku tidak tahu kemana rasa itu mengarah. Tapi rasanya seperti ada sesuatu di dadaku yang membuatku gugup. Yang kutahu, aku hanya ingin bertemu denganmu terus-terusan.

Aku tidak tahu kamu merasakannya juga atau tidak. Aku tidak memaksa kok. Itu hakmu. Tapi, jika kamu tahu perasaanku, aku mohon jangan berpura-pura kalau kamu tidak tahu. Jika kamu merasakan hal yang sama, mungkin aku harus berterima kasih kepada Tuhan. Karena selama ini aku selalu memintanya untuk memberitahumu kalau aku suka kamu.

Mungkin semua itu hanya khayalanku saja. Karena sekarang kamu sudah pergi terlalu jauh dan aku terlalu sulit untuk mengejarmu. Aku tidak menyesal. Aku juga tidak menyalahkan Tuhan. Lagi-lagi, itu hakmu. Hanya saja, sekarang hatiku kosong. Rasanya sangat plain seperti yoghurt.

Dan semua itu membuatku ingin jatuh cinta lagi dan lagi, agar rasa kosong dan plain itu cepat hilang, dan pergi bersama dengan langkah kakimu yang semakin menjauh.



....Terima kasih banyak sudah mengunjungi hatiku.....





Sekolah - 07.45. Tepatnya saat pelajaran fisika yang sangat membosankan dan sulit dimengerti. Terlihat seseorang disampingku sudah pergi ke alam mimpi. Dan sepertinya hanya sebagian orang di kelasku yang benar-benar memperhatikan.