Tampilkan postingan dengan label patah hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label patah hati. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Januari 2012

When I Close My Eyes, I See You.


Ketika sesuatu seperti tempat, lagu, atau hal-hal lain yang mencoba membawa nostalgia datang mendekat, aku harap ada tembok yang cukup kuat untuk menahannya datang. Karena aku sudah letih untuk mengingat atau merasakan perasaan itu. Letih memaksa diriku sendiri untuk melawannya. Mereka selalu mencoba untuk mengikis pelan-pelan sesuatu di dalam sini. Yang aku sendiri tak kuat untuk menahan rasa pedihnya. Karena rasa pedih itu tidak akan bisa dikeluarkan, yang pada akhirnya hanya terkunci di dalam sana.

Setiap nostalgia itu mencoba mendekat, mata ini akan menutup dengan bantuan kedua tanganku yang menahannya. Saat kegelapan sudah menyelimuti, aku harap aku sedang tidak berpijak di tanah, atau kalau bisa sebentar saja menghilang dari bumi ini. Aku ingin bisa melupakan semua yang telah terjadi. Yang terlanjur terjadi. Aku ingin membuangnya, namun semua itu mustahil. Sesuatu di dalam sini semakin memanas dan sesak, meminta dikeluarkan. Namun lagi-lagi, itu tak mungkin terjadi. Sesuatu di dalam sini seperti ingin meledak, namun sekencang-kencangnya ledakkan itu tidak akan membuat semua memori itu menjadi terhapus.

Pahit. Semua ini berakhir pahit, seperti kopi. Namun sepahit-pahitnya kopi tidak pernah sekali-kalinya membuat hidupku berantakan. Aku bingung dibuatnya, karena nyatanya semua ini telah berhasil memporak-porandakan hidupku, khususnya sesuatu di dalam sini.



Aku butuh penawar. Penawar untuk menawarkan rasa pahit ini.



Di Kamar - 01.11.

Sabtu, 19 November 2011

Broken

Aku tak mengerti apa yang kurasa
Rindu yang tak pernah begitu hebatnya
Aku mencintaimu lebih dari yang kau tahu
Meski kau takkan pernah tahu

Baru kusadari
Cintaku bertepuk sebelah tangan
Kau buat remuk seluruh hatiku


***


Jadi kronologis kenapa gue tiba-tiba nge-post secuplik lirik di atas itu adalah waktu gue bimbel dan pas jam istirahat, speaker nya menyanyikan lagu Pupus dari Dewa 19. Dan ya....liriknya sangat menyindir dan menusuk. Saat itu juga gue merasa sangat....menyedihkan.




Di Kamarku - 00.26.

Senin, 19 September 2011

Kita Bodoh




Aku selalu berpikir kalau sebenarnya kita berdua sangat bodoh. Dan sangat pemalu. Aku dan kamu bersikap bagaikan orang yang tidak saling mengenal, padahal kita sudah berbagi cerita panjang lebar. Kita juga sudah bertukar oleh-oleh lebaran. Kamu memberiku keripik apel dan aku memberimu bakpia rasa coklat. Dan semua itu adalah rahasia kecil antara kita berdua. Kecuali, 5 orang sahabatku yang sudah aku beri tahu. Pertanyaannya, apa ini masih sebuah rahasia kecil?

Kita berdua berada di tempat yang sama, namun hari-hari kita hanya diisi oleh kesunyian dan curi-curi pandang yang terkadang aku lakukan. Mungkin aku terlalu takut untuk menatapmu langsung dan pada akhirnya aku akan bertingkah bodoh di depanmu atau lebih parah nya, mungkin aku akan terlihat sombong karena tidak sedikit pun mau melihatmu. Aku juga tak kalah bingung akan sikapmu yang hanya diam saja seperti itu. Sekarang memang abad 21, namun perempuan tetaplah perempuan, memiliki gengsi setinggi langit untuk memulai duluan. Begitu pula aku. Tidak-kah kau tahu bahwa perempuan lebih suka disapa lebih dulu?

Kalau tidak salah menghitung, sepertinya sudah lewat sebulan sejak pertama kali kita bertukar nomor hp. Kalau kamu mau tahu, saat itu aku senang sekali. Aku masih sangat ingat isi sms pertama darimu. Walau isi nya tidaklah penting, tapi yang terpenting adalah kamu, si pengirim sms itu. Maaf kalau aku sedikit gombal. Dan ya, aku suka menanyaimu tentang PR yang sebenarnya sudah kuketahui sebelumnya. Aku juga suka mencari-cari topik pembicaraan yang menarik agar kamu tidak cepat bosan berbagi cerita denganku. Saat itu sepertinya semahal apa pun tarif sms tidak akan menjadi masalah.

Kamu juga tidak pernah absen dari dalam pikiranku, walaupun aku sedang melakukan hal lain. Saat tidur pun, kamu sering berkunjung ke alam mimpiku dan disana kita bagaikan pasangan sungguhan. Dan aku sangat sebal saat aku terbangun, semuanya hilang. Aku selalu berharap kepada Tuhan, bahwa semua itu nyata dan situasinya berbeda dari kenyataan yang sepertinya tidak memperbolehkan kita bersama.

Namun sepertinya Tuhan tidak mendengar doa ku. Buktinya, sampai sekarang kita tetap diam-diaman dan aku masih suka mencari-cari celah untuk melihatmu. Apa sebenarnya dari awal kamu memang tidak menganggap semua ini spesial? Atau aku nya saja yang terlalu berharap?


Tapi, kenapa kamu membalas sms-sms ku dengan kalimat yang panjang-panjang? Kenapa kamu berbagi cerita denganku? Kenapa kamu mengajakku bertukar oleh-oleh lebaran?



Kenapa kamu memberiku harapan....?




Di kamarku - 20.50

Minggu, 18 September 2011

....Tuhan, aku ingin jatuh cinta lagi....




Aku rasa, perkataan perempuan sore benar. Setelah merasakan patah hati, pasti yang diinginkan setelahnya adalah merasakan jatuh cinta lagi. Sepertinya, itulah yang sedang aku rasakan. Rasanya seperti menginginkan sesuatu yang baru untuk menghapus bekas-bekas coretan yang pernah kamu tulis di dalam hatiku. Seperti sepatu lusuh yang sol nya sudah lepas, dan buru-buru ingin ditambal supaya bisa dipakai lagi.Karena, aku akan sedih kalau sepatu lusuh itu hanya teronggok rusak disana.

Aku tidak tahu apakah waktu itu yang dinamakan cinta atau bukan. Aku tidak mau tahu. Karena yang aku rasakan adalah sebuah rasa yang mengalir dengan tenang dan aku tidak tahu kemana rasa itu mengarah. Tapi rasanya seperti ada sesuatu di dadaku yang membuatku gugup. Yang kutahu, aku hanya ingin bertemu denganmu terus-terusan.

Aku tidak tahu kamu merasakannya juga atau tidak. Aku tidak memaksa kok. Itu hakmu. Tapi, jika kamu tahu perasaanku, aku mohon jangan berpura-pura kalau kamu tidak tahu. Jika kamu merasakan hal yang sama, mungkin aku harus berterima kasih kepada Tuhan. Karena selama ini aku selalu memintanya untuk memberitahumu kalau aku suka kamu.

Mungkin semua itu hanya khayalanku saja. Karena sekarang kamu sudah pergi terlalu jauh dan aku terlalu sulit untuk mengejarmu. Aku tidak menyesal. Aku juga tidak menyalahkan Tuhan. Lagi-lagi, itu hakmu. Hanya saja, sekarang hatiku kosong. Rasanya sangat plain seperti yoghurt.

Dan semua itu membuatku ingin jatuh cinta lagi dan lagi, agar rasa kosong dan plain itu cepat hilang, dan pergi bersama dengan langkah kakimu yang semakin menjauh.



....Terima kasih banyak sudah mengunjungi hatiku.....





Sekolah - 07.45. Tepatnya saat pelajaran fisika yang sangat membosankan dan sulit dimengerti. Terlihat seseorang disampingku sudah pergi ke alam mimpi. Dan sepertinya hanya sebagian orang di kelasku yang benar-benar memperhatikan.