Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Januari 2012

When I Close My Eyes, I See You.


Ketika sesuatu seperti tempat, lagu, atau hal-hal lain yang mencoba membawa nostalgia datang mendekat, aku harap ada tembok yang cukup kuat untuk menahannya datang. Karena aku sudah letih untuk mengingat atau merasakan perasaan itu. Letih memaksa diriku sendiri untuk melawannya. Mereka selalu mencoba untuk mengikis pelan-pelan sesuatu di dalam sini. Yang aku sendiri tak kuat untuk menahan rasa pedihnya. Karena rasa pedih itu tidak akan bisa dikeluarkan, yang pada akhirnya hanya terkunci di dalam sana.

Setiap nostalgia itu mencoba mendekat, mata ini akan menutup dengan bantuan kedua tanganku yang menahannya. Saat kegelapan sudah menyelimuti, aku harap aku sedang tidak berpijak di tanah, atau kalau bisa sebentar saja menghilang dari bumi ini. Aku ingin bisa melupakan semua yang telah terjadi. Yang terlanjur terjadi. Aku ingin membuangnya, namun semua itu mustahil. Sesuatu di dalam sini semakin memanas dan sesak, meminta dikeluarkan. Namun lagi-lagi, itu tak mungkin terjadi. Sesuatu di dalam sini seperti ingin meledak, namun sekencang-kencangnya ledakkan itu tidak akan membuat semua memori itu menjadi terhapus.

Pahit. Semua ini berakhir pahit, seperti kopi. Namun sepahit-pahitnya kopi tidak pernah sekali-kalinya membuat hidupku berantakan. Aku bingung dibuatnya, karena nyatanya semua ini telah berhasil memporak-porandakan hidupku, khususnya sesuatu di dalam sini.



Aku butuh penawar. Penawar untuk menawarkan rasa pahit ini.



Di Kamar - 01.11.

Rabu, 07 Desember 2011

Ketika Batas Tidak Lagi Terlihat


Baru saja, sebuah kalimat atau lebih telah membuatku berpikir cukup lama dan dengan hebatnya menyadarkanku akan satu hal yang akhir-akhir ini menjadi sebuah masalah yang merepotkan. Dan buruknya lagi, kalimat-kalimat itu seperti tahu kemana tujuannya dan sangat tepat sekali menuju sasaran. Kalau ada suaranya mungkin kata 'Jleb' akan sangat tepat, serta membuat hati ini mencelos dibuatnya.


"....kamu telah dan terlalu mencintai seseorang yang tidak mencintaimu..."


Seperti ada petir di atas kepalaku yang berhasil membuatku 'sedikit' terguncang. Seakan dia menyindirku dan tahu dulunya aku pernah melakukan hal bodoh itu. Tapi, apa kamu tahu bahwa apa pun yang sedang kamu lakukan itu salah atau benar pada saat kamu sedang jatuh cinta? Bahkan, salah dan benar pun tidak terlihat batasnya. Semua hal terlihat benar. Seperti warna abu-abu, bukan putih, bukan juga hitam.

Kebenaran pun seakan luput dari mata, karena saat itu, kamu tidak peduli mau itu salah atau benar. Karena satu hal yang menurutmu benar hanya mencintainya. Tidak peduli siapa dia, seperti apa dia, dan bagaimana dia. Logika pun seperti menghilang dari tempatnya, dan semua hal seperti diatur oleh perasaan. Telingamu menjadi tuli. Mata pun ikut-ikut bermasalah, semuanya terlihat buram. Dan satu-satu nya hal yang dapat kamu andalkan saat itu hanyalah perasaan.

Namun hal bodoh itu dapat kamu lawan, dan satu-satu nya yang dapat melakukannya hanya dirimu sendiri. Karena hanya dirimulah yang dapat mengontrol perasaan itu. Saranku, jangan terlalu besar memberi cintamu kepada seseorang yang bahkan tidak menyadari kalau kamu memberi perhatian lebih kepadanya. Karena hal itu hanya membuat dirimu lebih bodoh dari dirimu yang memang dengan bodohnya telah memulai untuk mencintainya. Aku harap kalian mengerti maksudku. Dan kebodohan itu akan membuat dirimu berkata 'jika saja...' berkali-kali.

Tapi jangan salahkan dirimu, karena mungkin dari hal itu kamu bisa merasa bahagia. Jadi tidak seluruhnya merugikan bukan? Dan untuk yang satu ini, aku sangat setuju.



Di Rumahku - 20.37. Menulis ini ditemani sekotak coklat. Ada yang isinya kismis, almond, dan kacang mede. Tapi yang kismis dan mede sudah tidak terlihat lagi.

Jumat, 25 November 2011

Flashback

Tak sengaja, kemarin aku membaca ulang sms-sms darimu, yang sangaaaat banyak. Aku tak mengira kalau banyak sekali hal-hal yang sudah kita bagi. Dari hal-hal yang penting sampai yang tidak penting. Dari yang menyenangkan sampai yang menyedihkan.

Hmmm... itu semua sudah terjadi selama 4 bulan, dari bulan Agustus sampai bulan ini. Bahkan saat itu, puasa selama 1 bulan pun tidak terasa, tiba-tiba kita sudah bertukar ucapan lebaran saja, dan kita bertukar oleh-oleh dari kampung halaman kita masing-masing. Kalau boleh tahu, apa rasa keripik apel memang seperti itu ya? Soalnya di lidahku terasa seperti rumput laut, dan kau tahu sendiri lah kalau aku tidak suka rumput laut. Tapi itu tidak masalah, karena aku sangat menghargai usahamu yang lebih dulu mengajakku untuk bertukar oleh-oleh. Karena sebenarnya aku sangat shock saat itu dan kurasa itu benar-benar gila. Aku tidak pernah menyangka nya sebelumnya. Apalagi mengingat kalau saat itu kita tidak terlalu dekat, dan menurutku kamu sangat cuek.

Kembali ke masa sekarang. Tidak banyak berubah, masih seperti dulu. Kita tetap seperti orang bodoh yang diam-diaman, menunggu siapa yang lebih dulu memulai. Dan kalau boleh jujur, aku sangat menikmatinya. Menikmati setiap detik yang berlalu dengan perasaan deg-degan, semangat yang mengalir, dan adrenalin yang selalu ingin meledak setiap kali mata kita saling bertubrukan tanpa sengaja.

Setiap hari, aku selalu berharap bahwa kamu akan sadar tanpa aku beri tahu atau aku tunjukan perasaan itu. Aku bukan perempuan yang berpengalaman dalam masalah ini, jadi tolong jangan paksa aku untuk melakukan hal-hal yang tidak aku tahu. Maafkan aku kalau aku sangat kaku atau jaim dihadapanmu. Semua itu terjadi karena aku malu, aku takut kalau aku akan bersikap konyol dihadapanmu.

Namun sekarang aku sudah bisa menerima semua yang terjadi dengan ikhlas. Kenyataan bahwa kamu memang tidak tahu menahu tentang perasaanku yang sepertinya semakin dalam. Kenyataan bahwa sepertinya semakin jauh saja aku denganmu.

Persetan dengan akhir yang bahagia. Persetan dengan kata 'aku cinta kamu' yang selalu aku tunggu-tunggu untuk keluar dari bibirmu. Persetan dengan harapan bahwa suatu saat nanti kamu akan memberiku boneka, bunga, atau hal-hal manis lainnya.

Semua ini bukan tentang hasil di akhir cerita nantinya. Namun ini lebih tentang setiap momen yang sudah kita lalui bersama dalam proses menuju akhir cerita itu. Dan menurutku, keadaan kita saat ini pun sudah cukup. Dengan melihatmu saja sudah terasa melegakkan, jadi untuk apa berharap sesuatu yang lebih?


Karena terkadang, cinta itu tidak harus memiliki bukan?



Di kamarku - 13.34. Hari ini aku meliburkan diri dan sebal sekali karena aku bangun terlalu pagi. Yang artinya sama saha seperti hari-hari lainnya.