Jumat, 23 September 2011

Malam Ini, Malam Kita

Aku masih sendiri
Duduk bersandar pada sebuah pohon kecil yang rindang
Memandang langit berwarna kuning keemasan
Yang seakan menyihirku
Dan hanya bunga-bunga berwarna-warni ini saja yang menemaniku
Terhampar sepanjang mata memandang
Mereka bergoyang-goyang tertiup angin musim panas
Di kejauhan terlihat beberapa layangan berbagai bentuk sedang terbang
Aku tersenyum memandangnya

Oh, lihat...
Rupanya aku sudah berada disini cukup lama
Langit sudah berubah menjadi gelap
Dan dengan malu-malu para bintang sedang melihatku
Dan tersenyum, diam-diam
Mereka berbisik, "Hai gadis manis, mau kah aku temani sebentar?"
Aku sangat senang, dan
Memberinya senyum termanisku sebagai jawabanku
Tak terasa sudah beberapa menit kami bercengkerama
Mereka sangat ramah

Dan muncullah dia
Dia yang sedari tadi aku tunggu-tunggu
Dia yang aku cari-cari selama ini

Akhirnya kamu datang juga

Aku tergelitik oleh sinarmu
Ujung bibirku terangkat membentuk senyuman jenaka
Seakan rasa kangenku terbang
Terbawa angin malam yang sangat sejuk

Aku tak sabar ingin bercerita kepadamu
Tentang kebaikan bunga-bunga
Keramahan bintang-bintang
Dan keindahan langit sore



Malam ini hanya milik kita



Sekolah - 11.29.

Jam-jam Malas

Aku termenung, duduk di bangku kelas
Dikelilingi teman-teman yang sedang asyik bermain kartu
Headset tergantung di kupingku
Dan dengan indahnya, lagu-lagu bernyanyi untukku
Padahal mereka tidak mengenalku
Aku pun sedang tidak mood untuk melakukan apa pun
Di depan kelas, seseorang sedang menjelaskan sesuatu
Dan hanya baris ke satu dan kedua saja yang terisi
Itu pun bolong-bolong
Dasar anak SMA
Mau seenaknya saja



Sekolah - 11.01. Pelajaran fisika, yang mengajar guru yang sedang PKL jadi tidak terlalu serius, murid-muridnya.

Selasa, 20 September 2011

Ternyata, kita berdua aneh....

Akhir-akhir ini kamu rajin sekali menginjungi pikiranku. Padahal aku sedang berusaha untuk tidak meikirkanmu, sedikit pun. Karena sekarang aku sadar, kamu tidak cukup baik untukku. Aku harus berterima kasih kepada Tuhan karena dia tidak terlambat untuk menyadarkanku. Mungkin Tuhan berkehendak lain. Yah, semoga saja Tuhan cepat-cepat memberikan penggantinya yang jauh lebih baik dan tidak aneh.

Maaf kalo aku bilang seperti itu. Tapi ternyata kamu memang aneh sekali ya. Kamu sering melakukan hal-hal yang membuatku semua orang berbisik-bisik membicarakanmu diam-diam. Dulu, aku tidak terlalu mempusingkan semua itu, karena kupikir itu hanya iseng. Aku selalu membelamu, walaupun hanya di dalam hati. Aku hanya mendengarkan perkataan orang yang mengejekmu dan sama sekali tidak setuju. Namun sekarang aku rasa semua itu bukan sekedar iseng, namun benar-benar aneh.

Aku memang sudah sadar akan hal itu namun entah kenapa masih ada secuil harapan di hatiku. Rasanya sulit sekali untuk membuang bayangan mu jauh-jauh, apalagi karena aku selau bertemu denganmu setiap hari. Aku merasa sangat bodoh dan tentu saja seaneh kamu. Mungkin lebih aneh, karena aku masih mengharapkan orang yang aku anggap aneh. Aku sendiri tidak tahu kemana jalan pikiranku. Setiap saat kamu masih ada disana, di sudut pikiranku. Dan aku tak tahu bagaimana mengusirmu.

Lebih buruknya lagi, aku juga masih suka memperhatikanmu diam-diam. Mungkin kamu tidak sadar, tapi aku juga sering mencoba menarik perhatianmu walaupun kurasa itu tidak termasuk menarik karena aku bukan perempuan yang centil. Orang-orang bilang aku perempuan strong. Kurasa mereka benar.



Akhirnya aku menyimpulkan kalau aku sekarang juga aneh, seperti kamu.





Di kamar - 22.43. Akhirnya postingan ini selesai juga setelah ditunda-tunda karena kesibukan yang tidak mau kompromi. Terdengar suara motor dari luar kamarku, dan rasa kantuk yang semakin menjadi-jadi. Jadi, selamat malam semua.

Senin, 19 September 2011

Dia

Bel pulang sekolah seakan mengingatkan murid-murid yang berada di dalam kelas bahwa sekolah telah usai. Saat itu, dari sudut mataku, aku melihatmnya keluar kelas lebih dulu dari yang lainnya dan terlihat terburu-buru. Mungkin dia kebelet pipis, atau mungkin sudah ditunggu oleh salah satu temannya yang menagih janji makan siang bersama. Dan masih banyak kemungkinan yang mondar-mandir dalam pikiranku. Pada akhirnya mereka semua terlupakan karena aku teringat untuk mengambil barangku yang kutaruh di loker.

Aku melewati pintu kelas dan terlihatlah dia sedang berada diluar kelas, sendirian dan sedang tidak melakukan apa-apa. Yang artinya, terlambat bagiku untuk mengalihkan pandangan mataku darinya, karena dia terlanjur melihatku juga. Hanya beberapa detik sepertinya kami saling menatap, yang terasa sangat lambat. Tak ada alasan lain bagiku untuk tidak jalan terus menuju lokerku yang hanya berjarak 10 meter darinya. Rasa gugup dan takut bercampur menjadi satu di dalam dadaku saat aku dengan susah payah berusaha untuk bersikap sewajarnya ketika melewatinya.

Sesampainya di loker, aku menyelesaikan urusanku dan terperangkap dalam obrolan singkat dengan temanku yang tak sengaja lewat di dekatku. Hanya perasaanku saja atau bukan, aku rasa dia sedang menatapku dari tempatnya berdiri tadi. Dengan sengaja aku memutar tubuhku dengan cepat kearah nya dan benar saja, dia sedang menatapku.

Dan lagi-lagi, aku harus melewatinya lagi untuk menuju ke kelas. Aku sebal sekali karena rasa gugup itu tak kunjung hilang, namun makin bertambah. Alhasil, aku hanya menatap ke arah lain selagi melewatinya. Rasanya, letak kelas ku itu begitu jauh dan lama sekali sampai nya. Akhirnya aku sampai kelas lagi dengan rasa gugup yang masih sangat terasa.

Aku menuju mejaku dan dengan cekatan memasukkan semua barang-barangku ke dalam tas. Setelah semuanya selesai, aku membalikkan tubuhku untuk bergegas pulang, dan tiba-tiba saja dia sudah berada dihadapanku. Belum sempat mengatur napas dan emosiku, dia bertanya kepadaku dengan mudahnya tentang suatu hal yang seharusnya dengan mudah aku jawab pada keadaan normal, namun keadaanku sangat tidak normal untuk menjawab pertanyaan apa pun. Seakan-akan semuanya buram, sunyi, dan hanya ada kami saja disana. Seakan-akan aku membisu seketika dan dengan tergagap menjawab perntanyaan nya itu. Aku tak terlalu ingat apa saja yang aku ucapkan kepada nya, bisa mengatakan 1 kata saja sudah sangat beruntung bagiku. Dan yang terpenting aku tidak terlihat seperti patung dihadapannya. Itu saja yang aku minta kepada Tuhan.

Sepertinya Tuhan tahu kalau aku sangat butuh bantuannya, karena pada waktu yang tepat temanku lewat di dekatku. Rasa gugupku berkurang sedikit. Tanpa pikir panjang, aku menariknya mendekat dan dengan cepat mengulangi pertanyaan nya. Temanku dengan lancar menjawab pertanyaan nya dan langsung mendapat anggukan yang menunjukan bahwa pemilik pertanyaan itu sudah puas dengan jawabannya. Dengan suara serak dan terbata-bata aku berhasil berpamitan dengannya dan dengan perasaan gugup aku berjalan keluar dari kelas, meninggalkannya.

Sepanjang jalan menuruni tangga sekolah, sepertinya dadaku ingin meledak saking kerasnya berdegup. Untung saja temanku yang baik hati itu tidak mendengar sedikit pun bunyinya. Sepertinya, bertruk-truk coklat juga tak akan cukup untuk mengungkapkan rasa terima kasihku. (Mungkin ini lebay, jadi lupakan saja)

Aku tak habis pikir, kenapa semua yang sudah terjadi beberapa saat lalu bisa terjadi kepadaku. Aku juga sudah mengira bahwa efek dari semua itu akan bertahan lama. Buktinya, sepanjang hari itu hanya kejadian itu saja yang berhasil menarik perhatianku. Seakan-akan memang kejadian itu ditakdirkan untuk dipikirkan berkali-kali. Bahkan waktu tidurku pun terganggu.

***

Berdiri beberapa saat dihadapanmu seakan memberitahuku bahwa kamu sangat tinggi, sampai-sampi aku harus mendongakan kepalaku agar bisa menatap matamu. Terlihat sepatu hitam berlist merah sedang kamu pakai saat itu dan untuk kesekian kalinya aku berpendapat bahwa kamu suka warna merah.



Mungkin aku sok tahu, tapi aku juga hobby memperhatikanmu.




Di kamarku - 22.31. Aku sudah berbaring di tempat tidurku yang sangat nyaman ini dan kurasa aku harus menyelesaikan tulisanku ini skrg juga. Dan baru saja selesai, jadi sekarang saatnya aku untuk tidur. Selamat malam.

Kita Bodoh




Aku selalu berpikir kalau sebenarnya kita berdua sangat bodoh. Dan sangat pemalu. Aku dan kamu bersikap bagaikan orang yang tidak saling mengenal, padahal kita sudah berbagi cerita panjang lebar. Kita juga sudah bertukar oleh-oleh lebaran. Kamu memberiku keripik apel dan aku memberimu bakpia rasa coklat. Dan semua itu adalah rahasia kecil antara kita berdua. Kecuali, 5 orang sahabatku yang sudah aku beri tahu. Pertanyaannya, apa ini masih sebuah rahasia kecil?

Kita berdua berada di tempat yang sama, namun hari-hari kita hanya diisi oleh kesunyian dan curi-curi pandang yang terkadang aku lakukan. Mungkin aku terlalu takut untuk menatapmu langsung dan pada akhirnya aku akan bertingkah bodoh di depanmu atau lebih parah nya, mungkin aku akan terlihat sombong karena tidak sedikit pun mau melihatmu. Aku juga tak kalah bingung akan sikapmu yang hanya diam saja seperti itu. Sekarang memang abad 21, namun perempuan tetaplah perempuan, memiliki gengsi setinggi langit untuk memulai duluan. Begitu pula aku. Tidak-kah kau tahu bahwa perempuan lebih suka disapa lebih dulu?

Kalau tidak salah menghitung, sepertinya sudah lewat sebulan sejak pertama kali kita bertukar nomor hp. Kalau kamu mau tahu, saat itu aku senang sekali. Aku masih sangat ingat isi sms pertama darimu. Walau isi nya tidaklah penting, tapi yang terpenting adalah kamu, si pengirim sms itu. Maaf kalau aku sedikit gombal. Dan ya, aku suka menanyaimu tentang PR yang sebenarnya sudah kuketahui sebelumnya. Aku juga suka mencari-cari topik pembicaraan yang menarik agar kamu tidak cepat bosan berbagi cerita denganku. Saat itu sepertinya semahal apa pun tarif sms tidak akan menjadi masalah.

Kamu juga tidak pernah absen dari dalam pikiranku, walaupun aku sedang melakukan hal lain. Saat tidur pun, kamu sering berkunjung ke alam mimpiku dan disana kita bagaikan pasangan sungguhan. Dan aku sangat sebal saat aku terbangun, semuanya hilang. Aku selalu berharap kepada Tuhan, bahwa semua itu nyata dan situasinya berbeda dari kenyataan yang sepertinya tidak memperbolehkan kita bersama.

Namun sepertinya Tuhan tidak mendengar doa ku. Buktinya, sampai sekarang kita tetap diam-diaman dan aku masih suka mencari-cari celah untuk melihatmu. Apa sebenarnya dari awal kamu memang tidak menganggap semua ini spesial? Atau aku nya saja yang terlalu berharap?


Tapi, kenapa kamu membalas sms-sms ku dengan kalimat yang panjang-panjang? Kenapa kamu berbagi cerita denganku? Kenapa kamu mengajakku bertukar oleh-oleh lebaran?



Kenapa kamu memberiku harapan....?




Di kamarku - 20.50

Minggu, 18 September 2011

Situasi

Mungkin semua ini sudah berakhir, terlalu cepat kurasa. Aku sudah bisa membiarkanmu pergi. Dan hanya iPod ku saja yang menemaniku. Aku punya banyak teman, tapi aku terlalu takut untuk bercerita panjang lebar tentangmu. Padahal, nama mu sudah menyesakkan kepalaku dan aku ingin sekali membaginya sedikit saja kepada orang lain, supaya mereka juga tahu apa yang aku rasakan. Tapi rasanya semua itu sulit sekali untuk dilakukan. Aku terperangkap sendiri disini bersama pikiranku.

Ketika seseorang jatuh cinta, pasti orang itu akan mencari tahu sebanyak mungkin tentang orang yang dicintainya, atau dalam masalahku, orang yang aku sukai. Seperti orang bodoh, aku selalu menunggunya muncul di timeline twitterku. Aku akan merasa sedih apabila kamu tidak muncul. Dan rasa gelisah-lah yang pada akhirnya menemaniku. Kamu jahat, lebih jahat dari penjahat mana pun. Kamu membiarkanku hanya diam dan terus-terusan memikirkanmu.

Aku rasa, aku sudah tahu cukup banyak tentangmu. Kamu tidak cukup baik di mata teman-temanku, begitu pula di mataku. Dan itu adalah salah satu penyebab kenapa aku takut memberitahu temanku kalau aku suka kamu.

Mungkin aku juga jahat. Aku takut dibilang macam-macam kalau aku suka kamu. Tapi aku juga tidak mau membencimu. Aku tahu, kamu masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri. Tapi, semua orang nampaknya tidak akan peduli. Dan situasi ini sangat merepotkanku.

Aku selalu berharap kepada Tuhan, andai saja kamu tidak pernah melakukan hal-hal buruk itu dan andai saja teman-temanku bisa menerimamu apa adanya. Dan hal terpenting dari semua itu adalah andai saja aku punya keberanian untuk tidak memedulikan apa kata orang.

Tapi pada akhirnya, aku-lah yang kalah. Aku tidak bisa bertahan dalam memperjuangkanmu. Aku terlalu munafik. Dan dengan rela membiarkanmu pergi, meninggalkanku disini.


Andai saja....situasi nya berbeda, pasti kita bisa bersama. Aku yakin. Kamu juga yakin kan?



Sekolah - 08.00. Masih pelajaran fisika yang lama-kelamaan semakin membuatku mengantuk. Sepertinya seseorang disampingku semakin nyenyak sekali. Dan aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh seseorang di depan kelas.

....Tuhan, aku ingin jatuh cinta lagi....




Aku rasa, perkataan perempuan sore benar. Setelah merasakan patah hati, pasti yang diinginkan setelahnya adalah merasakan jatuh cinta lagi. Sepertinya, itulah yang sedang aku rasakan. Rasanya seperti menginginkan sesuatu yang baru untuk menghapus bekas-bekas coretan yang pernah kamu tulis di dalam hatiku. Seperti sepatu lusuh yang sol nya sudah lepas, dan buru-buru ingin ditambal supaya bisa dipakai lagi.Karena, aku akan sedih kalau sepatu lusuh itu hanya teronggok rusak disana.

Aku tidak tahu apakah waktu itu yang dinamakan cinta atau bukan. Aku tidak mau tahu. Karena yang aku rasakan adalah sebuah rasa yang mengalir dengan tenang dan aku tidak tahu kemana rasa itu mengarah. Tapi rasanya seperti ada sesuatu di dadaku yang membuatku gugup. Yang kutahu, aku hanya ingin bertemu denganmu terus-terusan.

Aku tidak tahu kamu merasakannya juga atau tidak. Aku tidak memaksa kok. Itu hakmu. Tapi, jika kamu tahu perasaanku, aku mohon jangan berpura-pura kalau kamu tidak tahu. Jika kamu merasakan hal yang sama, mungkin aku harus berterima kasih kepada Tuhan. Karena selama ini aku selalu memintanya untuk memberitahumu kalau aku suka kamu.

Mungkin semua itu hanya khayalanku saja. Karena sekarang kamu sudah pergi terlalu jauh dan aku terlalu sulit untuk mengejarmu. Aku tidak menyesal. Aku juga tidak menyalahkan Tuhan. Lagi-lagi, itu hakmu. Hanya saja, sekarang hatiku kosong. Rasanya sangat plain seperti yoghurt.

Dan semua itu membuatku ingin jatuh cinta lagi dan lagi, agar rasa kosong dan plain itu cepat hilang, dan pergi bersama dengan langkah kakimu yang semakin menjauh.



....Terima kasih banyak sudah mengunjungi hatiku.....





Sekolah - 07.45. Tepatnya saat pelajaran fisika yang sangat membosankan dan sulit dimengerti. Terlihat seseorang disampingku sudah pergi ke alam mimpi. Dan sepertinya hanya sebagian orang di kelasku yang benar-benar memperhatikan.